Aku Bersedia Melintasi Bentangan Jarak Usia Itu

“Ya Allah, jika memang Safa lah jodoh yang Engkau kirimkan untukku, maka mantapkan hatiku untuk mengkhitbahnya. Lapangkan jalan kami untuk bersatu dalam kemuliaan rumah tangga. Dan karuniakanlah kami keturunan yang soleh dan solehah. Aamiin allahumma aamiin.”

Sebuah doa yang tak henti Razan lantunkan dalam setiap sujudnya, mengalir penuh ketenangan dari bibirnya. Razan pun bangkit dari sujudnya untuk kemudian duduk tahiyat akhir. Tak lama berselang, shalat pun diakhiri dengan ucapan salam dua kali. Razan mengusap wajahnya dengan perlahan, penuh penghayatan. Ia berharap ketenangan mengalir teduh di hatinya.

Seminggu ini, hati Razan dibalut kecemasan akan seorang perempuan. Safa namanya. Sepupunya menyodorkan namanya untuk Razan khitbah sebagai istri. Tak terselip pun keraguan akan kesolehan Safa yang memang sudah sangat termahsyur namanya. Hanya saja, Razan khawatir ia tak cukup pantas untuk bersanding dengan perempuan mulia seperti Safa.

Seorang kawan tiba-tiba menepuk pundak Razan, membuyarkan kegalauannya. Razan menoleh sembari tersenyum. Kedua sahabat ini pun lantas bersalaman. Ali, nama kawan tersebut, kemudian duduk di samping Razan yang memang sengaja menyendiri di mushola kantor.

“Ayo kita makan siang, Zan! Aku sudah lapar,” ajak Ali.

“Ayo lah,” sambut Razan.

Mereka pun berjalan bersama keluar kantor. Mereka memilih untuk makan siang di kantin samping kantor.
Setelah memesan makanan, mereka pun duduk di bangku pojok.

“Zan, bagaimana keputusanmu tentang Safa? Kau jadi melamarnya?” Tanya Ali tiba-tiba.

Razan terdiam sesaat.

“Insya Allah,” jawab Razan terdengar tanpa ragu.

“Kau yakin, Zan? Sudah kau pertimbangkan masak-masak?” Tanya Ali sedikit tak percaya.

“Insya Allah, Li. Seminggu ini aku terus berdoa dan berdoa. Insya Allah tak ada keraguan yang timbul. Malah, hatiku semakin yakin. Semakin mantap,” jawab Razan.

Ali terdiam sejenak.

“Tapi.. Safa jauh lebih tua darimu, Zan. Kau yakin, baik dia maupun kamu, bisa menerima perbedaan usia ini?” Tanya Ali lagi.

Razan tersenyum. “Insya Allah aku mampu, Li. Dan kalau memang Safa memang jodoh yang Allah kirimkan untukku, maka aku yakin tidak akan ada masalah dari pihaknya.”

Ali masih tak bisa menerima keyakinan Razan. “Aku tak habis pikir, Zan. Banyak perempuan yang lebih muda dan lebih cantik dari Safa. Yang seumuran denganmu, bahkan yang lebih muda darimu, kau tinggal pilih saja. Kenapa harus Safa? Bagaimana kalau ia tak bisa merawatmu ketika nanti kalian semakin tua? Apa karena Sarah yang menyodorkan Safa, makanya kau tak bisa menolaknya?”

Razan tertawa kecil, menganggap protes Ali lucu. “Li, kenapa kau kelihatan gusar begini? Kau tahu aku, Li. Kita sudah lama berkawan. Kau tahu aku bukan pria yang bisa dipengaruhi begitu saja, kan?”

Ali diam. Serius ia menatap Razan, menuntut penjelasan lebih lanjut.

“Aku yakin, kau sudah cukup ilmu untuk menyadari dan memahami bahwa usia dan kecantikan bukan jaminan terciptanya surga. Kematian, hanya Allah yang tahu kapan itu terjadi pada setiap manusia. Bukan urusanku untuk mengkhawatirkan apakah nanti akan ada yang merawatku ketika aku tua. Kalau aku memilih istri karena usianya, artinya aku sudah mendahului keputusan Allah.

Seseorang juga pernah berkata, ‘Kalau kita memilih untuk mencintai seseorang karena kecantikannya, bagaimana kita bisa mencintai Allah yang bahkan tak kita ketahui wujud rupanya?’

Li, yang kucari hanya surga di dunia ini. Aku ingin menciptakan surgaku sendiri. Surga di dalam rumah tanggaku. Surga yang kutemukan dalam diri istriku dan anak-anakku nanti. Karena itu, cukuplah wanita solehah yang kuinginkan untuk menjadi istriku. Karena aku ingin anak-anakku juga merasakan surga yang dibangun orangtuanya.

Rasulullah saw. bisa begitu mencintai dan selalu merasakan kedamaian justru hanya kepada Khadijah ra. Padahal dunia tahu, Khadijah itu jauh lebih tua darinya. Tapi apakah Rasulullah saw. sampai merasa ada kekurangan dari diri Khadijah? Tidak, Li.

Aku ingin seperti Rasulullah, Li. Aku ingin rumahku selalu diselimuti cinta dimana aku selalu ingin pulang. Aku ingin istriku mampu menopang dan mendorong, ketika aku lemah dan nyaris terjatuh. Aku ingin istriku mampu memberiku kesejukan ketika aku merasa belenggu dunia terlalu kuat menjerat. Dan untuk memberikanku kesejukan hati, aku tak butuh kecantikan hayati yang cuma sesaaat. Aku butuh kecantikan nurani, kecantikan akhlak, yang tak lekang tergerus jaman.

Dan jika di dalam diri Safa lah surgaku berada, maka aku bersedia melintasi bentangan jarak usia itu.”

Ali tak mampu membantah dan mempertanyakan lagi. Sambil tersenyum ia berkata, “Razan, terima kasih. Jazakumullah. Kau tak hanya melenyapkan keraguanku akan keputusanmu untuk melamar Safa. Tetapi kau juga telah mengikis pandanganku yang tanpa alasan. Pilihanmu tepat. Sedari awal aku tak pernah ragu bahwa Safa memang perempuan solehah. Dan kini aku semakin yakin, ia memang pantas menjadi pendampingmu. Sebagaimana kau pun pantas untuk menjadi imamnya.”

Ali pun memeluk Razan dengan erat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s