Belajar Tanpa Henti

Kasus pelecehan anak yang terjadi di salah satu sekolah internasional di Jakarta lagi hangat dibicarakan. Semua orangtua jadi cemas dengan pendidikan anak-anaknya, jadi was-was untuk mempercayakan anaknya sepenuhnya ke sekolah. Mungkin mulai banyak yang kepikiran beralih ke Home Schooling? Hehe.

Saya sih sudah agak lama kepikiran untuk mulai menerapkan home schooling. Tentu saya tidak kompeten untuk mewujudkan sistemnya. Tetapi minimal esensinya bisa saya terapkan.

Seorang teman yang kini tinggal dengan suaminya di pelosok Kalimantan pernah cerita bahwa anak-anak di mana dia tinggal, kalau ke sekolah sebentar sekali. Jam 7 masuk, nanti jam 9 sudah pada pulang. Masalahnya tentu berkaitan dengan kuantitas dan kualitas tenaga pengajar di sana yang belum semumpuni di kota besar macam Jakarta. Tetapi menurut saya, justru ini adalah keuntungan. Kenapa? Karena artinya anak-anak sebenarnya memiliki kesempatan lebih untuk belajar di luar sekolah, mempelajari hal-hal yang tidak diajarkan oleh sekolah.

Dan kalau ini terjadi pada anak saya, saya sih senang-senang saja. Karena ini berarti memberi saya kesempatan untuk menjadi guru utama buat anak-anak saya dan bertanggungjawab pada pendidikan yang ingin saya berikan pada mereka. Bayangkan kalau anak-anak saya sekolah dengan sistem pendidikan  seperti di Jakarta, berangkat jam 7 pagi, pulang jam 4 sore. Sampai rumah mereka sudah lelah. Akan susah bagi saya untuk mencekoki lagi mereka dengan ilmu-ilmu lain. Belum lagi kalau yang diajarkan sekolah juga menyimpang. Misalnya pelajaran agama.

Saya pernah tulis di sini bahwa akibat pelajaran agama di sekolah, anak-anak mulai berpikiran intoleran pada mereka yang berbeda. Ini sungguh mengkhawatirkan! Benar kata Pak Daoed Joesoef, pelajaran agama memang tidak penting untuk diajarkan di sekolah. Agama memang paling baik diajarkan di rumah dan di mesjid saja yang sudah kita percaya memiliki pandangan yang sama!

Finlandia, sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, ternyata memiliki jumlah jam pelajaran tersedikit di dunia. Dengan memberikan jam pelajaran yang sedikit di sekolah, anak-anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya di luar jam sekolah, menemukan bakat dan minatnya. Karena setiap anak memiliki bakat dan minat yang berbeda yang tak bisa disama-samakan atau distandarisasi.

Makanya sebenarnya sistem pendidikan home schooling adalah sistem yang sangat pas kalau menurut saya. Home Schooling-nya Kak Seto, tetap memiliki jadwal anak-anak untuk berinteraksi di sekolah. Tapi hanya tiga kali dalam seminggu. Dan jam nya juga bukan yang dari pagi sampai sore. Jadi pas.

Lagipula saya dulu juga mengalami sendiri lah bagaimana jenuhnya berlama-lama di kelas. Betapa tak menyenangkannya mempelajari sesuatu yang saya ngga minat, ditambah ngga ada bakat, dengan metode yang tidak menyenangkan pula, menjadi komplit kejenuhan itu dengan jam pelajaran yang sangat lama. Dari pagi sampai sore. Karenanya saya selalu katakan bahwa masa-masa paling indah bukan masa-masa SMA, tetapi masa-masa kuliah. Karena sestres-stresnya saya belajar, saya masih lebih menikmati ke-stres-an belajar di masa kuliah daripada di masa SMA. Karena ketika kuliah saya mempelajari apa yang saya suka, saya minati, dan alhamdulillah saya ada bakat. Artinya saya ga terlalu kesulitan mempelajarinya. Cuma kehalang malas aja. Hehe.

Sekarang yang sedang saya lakukan, mumpung saya belum punya anak, adalah mempersiapkan diri saya sebaik-baiknya untuk menjadi orangtua yang siap, tidak hanya dari sisi mental, tetapi juga ilmu. Saya sadar tak semua ilmu bisa saya kuasai dengan baik dan nantinya bisa saya berikan kepada anak-anak saya. Yang saya bisa lakukan, minimal, adalah saya tahu kemana, kepada siapa, dan bagaimana saya mencari apa yang anak-anak saya butuhkan, ketika mereka bertanya dan membutuhkan bantuan saya untuk memahami sebuah ilmu.

Mungkin saya malah bisa merasa kalau saya tidak akan pernah siap. Tapi ketika anugerah untuk menjadi orangtua itu datang, minimal saya punya bekal. Bekal saya tidak hanya wawasan yang saya punya, tetapi juga kesadaran bahwa saya tidak tahu apa-apa sehingga saya harus terus memacu diri saya untuk terus dan terus belajar tanpa henti. Tentu saja diimbangi dengan doa yang dipanjatkan tak putus-putus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s