Tak Sia-Sia

Barusan ngobrol dengan seorang kawan. Topiknya tentang pernikahan. Ada satu alasan yang cukup menarik yang biasa diungkapkan orangtua ketika anak perempuannya masih kuliah tapi sudah ingin/siap menikah. Orangtua biasanya keberatan. Mereka inginnya anaknya lulus dulu baru menikah.

Alasan pertama, supaya fokus dulu selesaikan satu-satu. Kuliah dulu selesai, baru menikah. Tapi, bukankah tak ada kata selesai untuk belajar? Ketika sudah menikah, kemudian datang kesempatan untuk kuliah, haruskah ditolak karena takut tidak fokus? Bukankah kita harus terus belajar hingga habis masa hidup kita di dunia?

Menurut saya, kalau seorang anak perempuan sudah siap untuk menikah, sadar dan siap dengan kehidupan pernikahan yang penuh tanggungjawab, siap dengan bekal untuk menjadi istri serta ibu yang mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan baik, maka sebenarnya tak ada alasan untuk tak mengijinkannya menikah. Bila ia siap untuk membagi waktu dan perhatiannya untuk kuliah dan keluarga kecilnya, kenapa tidak?

Alasan kedua yang biasa diutarakan orangtua yang tak mengijinkan anak perempuannya menikah di saat sedang menyelesaikan kuliah adalah, kalau menikah akan susah dapat kerja. Lantas untuk apa sekolah tinggi kalau hanya menjadi ibu rumah tangga? Ini yang paling sering saya dengar.

Bukankah orangtua adalah pendidik utama anak-anaknya? Apalagi ibu, yang paling sering ditemui anak-anaknya. Dia akan menjadi guru pertama dan akan selalu menjadi yang utama bagi anak-anaknya. Lantas, kalau seorang ibu tak memiliki pendidikan yang memadai, bagaimana ia bisa mendidik anak-anaknya kelak? Bagaimana ia bisa memiliki bekal wawasan yang cukup untuk menghilangkan, minimal mengurangi, dahaga anak-anaknya akan ilmu pengetahuan dan ilmu kehidupan?

Ibu rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan yang bisa dengan mudah kita rendahkan begitu saja. Dia mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga. Dia adalah koki utama keluarga. Dia adalah akuntan keuangan keluarga. Dia adalah manajer di segala bidang.

Allah SWT sendiri telah mendelegasikan sebuah tugas khusus untuk perempuan. Yaitu mendidik anak-anaknya. Mendidik keturunannya. Kalau perempuan tak diberi bekal ilmu, wawasan, bagaimana dia bisa memberikan pendidikan yang hebat untuk anak-anaknya?

Pendidikan bagi perempuan, utamanya bukan untuk bekalnya berkarir di luar rumah. Pendidikan bagi perempuan adalah bekalnya sebagai pendidik utama anak-anaknya kelak. Tidakkah kita bangga memiliki keturunan-keturunan yang cerdas dan berakhlak mulia? Bukankah itu adalah harta yang jauh lebih berharga daripada sekedar banyaknya materi?

Insya Allah tak akan sia-sia ilmu yang seseorang peroleh walaupun ia memilih menikah di tengah-tengah kuliahnya. Tak akan sia-sia kuliah yang ia jalani. Karena sampai kapanpun, ia akan terus membutuhkan ilmu. Sampai kapanpun, sepanjang hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s