Mencintai Al-Qur’an

Sudah beberapa bulan ini mengikuti gerakan membaca Al-Qur’an satu hari satu juz. Mengikuti gerakannya saja, tidak sampai bergabung dengan komunitasnya. Sejauh yang bisa saya ingat, ada satu alasan yang memicu saya untuk mengikuti gerakan ini: saya ingin anak-anak saya menjadi anak-anak yang mencintai Al-Qur’an.

Hz. Khalifatul Masih V aba. dalam salah satu khutbahnya menyatakan bahwa kalau kita ingin anak-anak kita mencintai Al-Qur’an, tentu orangtuanya lah yang harus lebih dulu mencintai Al-Qur’an. Bagi Huzur, sekedar bisa menamatkan membaca Al-Qur’an di usia dini bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan begitu saja. Tentu itu sebuah prestasi, tetapi ada hal yang jauh lebih penting daripada itu. Yaitu apakah kita berhasil menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an dalam diri anak-anak kita.

Saya ingin keturunan saya menjadi manusia yang mencintai Al-Qur’an. Dan sebagai langkah awal untuk mewujudkan itu, tentu harus dimulai dari diri saya sendiri.

Sebenarnya tidak sulit untuk jatuh cinta pada Al-Qur’an. Al-Qur’an secara ajaib menyediakan berbagai macam ilmu untuk dipelajari. Ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu psikologi, ilmu bahasa, ilmu sejarah, ilmu astronomi, ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu ekonomi dan ilmu lain yang belum saya kenali. Saya menyadari betul betapa otak saya tercerahkan dengan hanya membaca Al-Qur’an dan tafsirnya. Saya merasakan betul betapa Al-Qur’an menambah luas wawasan saya, pemahaman saya akan begitu banyak ilmu.

Dengan kandungannya yang luar biasa ini, saya memang sudah jatuh cinta pada Al-Qur’an. Hanya saja saya membaca Al-Qur’an tak sesering saat ini.  Saya hanya membaca Al-Qur’an dengan tafsirnya rutin di dua waktu shalat saja: setelah shalat subuh dan maghrib. Saya memang merasa membaca Al-Qur’an di dua waktu shalat  itu sih kurang. Kurang membuat saya merasa terikat lebih kuat dengan Al-Qur’an. Dan saya yakin di mata Allah pun saya kurang menunjukkan bahwa saya memang jatuh cinta pada Al-Qur’an.

Kalau Al-Qur’an yang bahasa Arabnya saja, saya malah jarang sekali membacanya. Karena saya dulu berpendapat, apa gunanya membaca Al-Qur’an tanpa tahu apa terjemahan dan tafsirnya. Tapi ternyata, pendapat saya ini salah sama sekali.

Membaca Al-Qur’an paling tidak melibatkan tiga aktivitas: melihat, mendengar, dan mengucapkan. Membaca Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa Arab, membuat kita harus membacanya dari kanan ke kiri, berseberangan dengan kebiasaan kita membaca dari kiri ke kanan. Karena kita terbiasa membaca dari kiri ke kanan, maka membaca Al-Qur’an dari kanan ke kiri membantu menyeimbangkan kerja otak. Kalau kerja otak seimbang, tentu baik pula untuk daya ingat. Dengan hanya membacanya saja, walau tidak tahu terjemahan dan tafsirnya, kita sudah bisa mencegah kepikunan.😀

Saya percaya bahwa membaca Al-Qur’an dapat melembutkan hati. Paling tidak itulah yang dikatakan Hz. Masih Mau’ud as. (Malfuzhat, Jilid 6, hlm 265-267),

Jika kalbu terasa keras, maka cara membuatnya lembut adalah, Bacalah Al-Quran berkali-kali.

Dan kini saya paham mengapa.

Ketika membaca Al-Qur’an, kita pasti membacanya dan menyenandungkannya. Suara yang indah mampu menyentuh hati manusia. Itu sudah menjadi hukum alam. Hz. Muslih Mau’ud ra. dalam bukunya Minhajut Thalibin menyampaikan bahwa keadaan lahiriah manusia akan mempengaruhi keadaan batiniahnya pula. Apabila kita melantunkan suara merdu ketika membaca Al-Qur’an, suara merdu kita itu😀 akan mampu membuat hati kita, kalbu kita, dan batin kita pun terasa lembut. Karenanya dalam satu hadits dikisahkan,

Rasulullah saw. bersabda, “Mereka yang tidak memperindahkan suara (enak didengarkan tapi masih memperhatikan aturan tajwid) ketika membaca Al-Qur’an bukan daripada kalangan kami (tidak memiliki hubungan dengan kami, Nabi Muhammad saw.)” Maka ditanyakan kepada Abi Mulaikah (perawi, pencerita hadits), “Wahai Abu Muhammad, tahukah engkau, bagaimana sekiranya seseorang itu suaranya tidak bagus?” Beliau menjawab, “Dia perlu berusaha memperbaiki (membaguskan) suaranya sedaya-upaya.” (HR. Sunan Abi Daud)

Hadits ini seperti menegaskan bahwa ketika membaca Al-Qur’an, kita perlu memperindah suara kita. Dan untuk itupun kita harus berusaha, mengingat manfaatnya yang mampu mempengaruhi keadaan batin kita.

Melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar melatih otot-otot di mulut kita sehingga membuat kita mampu berbicara dengan lebih teratur. Itu saya rasakan sekali. Kegagapan saya berkurang. Saya mencoba analisis sendiri kenapa bisa kegagapan saya berkurang. Hipotesis saya (Sekali lagi ini baru hipotesa ya. Soal kebenarannya, perlu diteliti lebih lanjut. Hehe):

1. Bahasa Arab adalah bahasa dengan sistem pengucapan yang sempurna, kosa katanya juga kaya. Inilah yang kemudian melatih otot-otot bicara untuk terbiasa melafalkan berbagai kosa kata dengan sistem pengucapan yang bermacam-macam.

2. Karena membaca Al-Qur’an itu dengan senandung, otak menjadi lebih rileks. Saya pun dengan sendirinya seperti dilatih untuk mengucapkan kata-kata dengan ritme dan tempo yang lebih lambat, tidak terburu-buru. Sehingga saya bisa lebih jelas mengucapkan kata-kata seperti “Bapak-Bapak”, yang biasanya sulit sekali saya ucapkan dengan jelas.😀

Jadi tidak benar kalau membaca Al-Qur’an dengan hurufnya saja itu tidak ada gunanya. Al-Qur’an, baik bentuk maupun isinya, memiliki manfaat untuk manusia. Paling tidak manfaat itu sudah saya rasakan sendiri.

Apalagi membaca setiap huruf Al-Qur’an memiliki pahala yang luar biasa banyak. Semakin banyak huruf yang kita baca, tentu akan menambah jumlah pahala sebagai tabungan di akhirat nanti. Tak ada salahnya. Karena sebagaimana Masih Mau’ud as. mengatakan dalam buku Al-Wasiyat,

Ambillah tiap-tiap jalan kebaikan, karena tidak diketahui dari jalan manakah kamu akan diterima.

Dari sekian banyak alasan ini, terlalu mudah untuk jatuh cinta pada Al-Qur’an. Ada begitu banyak alasan untuk mencintainya. Walaupun sebenarnya, tak butuh alasan untuk jatuh cinta. Hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s