Menulis dan Melepaskan

Suatu kali, saya menulis dengan amarah. Karena kejadiannya sudah begitu lama, saya lupa entah kenapa saya marah. Tapi saya selalu ingat bahwa saat itu saya betul-betul dikuasai amarah dan benci.

Kemudian, saya tulis semuanya di buku harian. Saya terus menulis segala keluh kesah, semua hal yang membuat saya sedemikian marah. Hingga saya sadar, amarah dan rasa benci saya perlahan-lahan memudar. Dan di akhir tulisan saya, saya sadar tak ada lagi amarah, bahkan di akhir tulisan saya itu.

Hari itu saya juga tersadar, bahwa menulis ternyata bisa menjadi salah satu jalan untuk melegakan perasaan, melunturkan perasaan tak baik yang menyumbat. Paling tidak hipotesa saya memiliki pendukungnya.

Hari ini saya membaca salah satu kutipan dari Fahd. Dia bilang,

“Saya sering menuliskan sesuatu untuk saya hapus kembali. Sering sekali. Biasanya hal-hal buruk. Lalu untuk apa semua itu dituliskan kalau pada akhirnya dihapus lagi? Agar mereka keluar dari pikiran dan perasaan saya.”

Kutipan ini, yang saya baca hari ini, yang mengingatkan saya untuk menuliskan hal ini, hari ini.

Ditambah lagi, saya kira, menulis adalah melepaskan. Ia mampu melepaskan segala perasaan dan pikiran tak baik, pun melepaskan segala perasaan dan pikiran yang baik. Saya kira manusia butuh kemampuan untuk mengekspresikan apapun yang menyumbat hati dan pikirannya, entah itu baik atau buruk. Yang buruk akan menghilang, yang baik akan abadi.

Dan menulis, saya kira, salah satu jalan terbaik untuk melunturkan hal-hal buruk, dan mengabadikan hal-hal baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s