Menjawab Wartakota: Al-Qur’an tentang Shalat Jumat bagi Perempuan

“Bisa dilihat sendiri, yang shalat cuma tiga belas orang, ada perempuan juga ikut. Ajaran Islam mana yang membenarkan hal itu?”

BEGITULAH ungkap seorang perempuan bernama Esri, 46 tahun, yang dikutip dari harian Warta Kota. Esri diwawancara berkaitan dengan peristiwa penghalangan dan pengusiran anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah yang hendak melaksanakan shalat Jumat di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Timur pada Jumat 12 Juni 2015.

Pernyataan Esri ini cukup menarik karena hingga hari ini terdapat perbedaan mengenai keikutsertaan perempuan dalam shalat Jumat. Apakah benar bahwa Islam tak membolehkan perempuan ikut shalat Jumat?

Dalam ˻QS LXII—Al-Jumu‘ah: 10˺ Allah SWT berfirman:

“Hai, orang-orang yang beriman! Apabila dipanggil untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah untuk mengingat Allāh dan tinggalkanlah jual-beli. Hal demikian adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Perintah ini menunjukkan bahwa tidak ada pembedaan oleh Islam mengenai keikutsertaan dalam Shalat Jumat. Frasa “orang-orang yang beriman” ditujukan kepada kaum lelaki dan perempuan. Sama halnya dengan perintah berpuasa yang tercantum dalam QS II—Al-Baqarah: 184, digunakan pula frasa “orang-orang yang beriman” yang ditujukan bagi laki-laki dan perempuan.

Maka dalam hal shalat Jumat, baik lelaki maupun perempuan, selama ia termasuk orang-orang yang beriman, maka diharuskan untuk segera memenuhi panggilan shalat pada hari Jumat.

Lalu bagaimana dengan ḥadīts yang menyatakan bahwa perempuan termasuk dalam golongan yang tidak wajib shalat Jumat?

Diriwayatkan dari Ḥaḍrat Jabir r.a. bahwasanya Ḥaḍrat Rasulullah saw. bersabda:

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka wajib atasnya shalat jum’at pada hari jum’at kecuali orang sakit, musafir, perempuan , anak kecil, atau budak. Barangsiapa yang sedang mencari kekayaan dengan berdagang cukuplah Allah baginya. Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

(HR Ad-Dāruquṭnī)

Dalam ḥadīts ini memang dikatakan bahwa perempuan termasuk golongan yang tidak diwajibkan untuk shalat Jumat. Tetapi tidak wajib bukan berarti tidak boleh. Apabila perempuan tidak dalam keadaan haid, nifas, atau keadaan lain yang memberatkannya untuk melaksanakan shalat Jumat di mesjid bersama kaum muslimin, maka wajib atasnya untuk melaksanakan shalat Jumat.

Seorang ulama bernama Ḥaḍrat Syaikh Ibnu Bāz r.h. berkata:

“Shalat Jumat hanyalah jadi kewajiban laki-laki. Akan tetapi, jika perempuan menghadiri shalat Jumat tersebut bersama jamaah laki-laki, lalu ia melaksanakan shalat Jumat, shalatnya dikatakan sah sebagaimana sebagian perempuan pernah shalat di masa Nabi—shalla’l-Lāhu ‘alaihi wa sallam—dan itu sah. Jika perempuan sudah melaksanakan shalat Jumat bersama kaum muslimin, maka ia tidak perlu lagi melaksanakan shalat Zhuhur (shalat Jumat tadi sudah mencukupi).”

(Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Pendapat ulama ini menguatkan ajaran Islam bahwa perempuan pun memiliki kewajiban yang sama dengan lelaki perihal shalat Jumat sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian perempuan pada masa Rasulullah saw. dan shalatnya itu sah. Hanya saja, karena perempuan ditakdirkan untuk mengalami hal-hal tertentu yang tidak dialami lelaki seperti haid, nifas, dan keadaan lainnya, maka kewajiban melaksanakan shalat Jumat tak sekuat yang diperintahkan kepada kaum lelaki.

Islam senantiasa mengajarkan keadilan dalam segala hal. Perempuan pun memiliki hak yang sama dengan kaum lelaki untuk meraih berkat-berkat dalam setiap ibadah yang dilaksanakan. Begitupula dalam shalat Jumat, perempuan tidak dimahrumkan dari meraih berkat-berkatnya. Dan ini bukan ajaran Islam yang berbeda, karena ajaran Islam selalu sama dari awal kehadirannya, hingga di masa yang akan datang nanti.

*diterbitkan di rajapena.org

2 thoughts on “Menjawab Wartakota: Al-Qur’an tentang Shalat Jumat bagi Perempuan

  1. Pertanyaan saya justru tidak berkaitan dng keikutsertaan wanita dalam salat Jumat. Bagaimana pandangan Jemaat Muslim Ahmadiyah thd fatwa ulama Wahabi seperti Ibnu Baz di atas: apakah menjadi rujukan dalam hukum atau dikutip hanya sebagai hujah bagi lawan bicara?

    1. Kalau rujukan dalam hukum sih tentu saja tidak. Saya kutip fatwa Ibnu Baz hanya ingin menunjukkan bahwa ulama sekeras Wahabi pun mengakui shalat Jumat bagi perempuan, menganggapnya sah, dan bahkan dilakukan perempuan pada jaman Rasulullah saw. Itu saja. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s