Keberadaan Tuhan

Sebuah tulisan yang panjang yang dikarang oleh Ḥaḍrat Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmad ra dengan judul “10 Dalil atas Keberadaan Wujud Sang Pencipta”. Cuplikan ini merupakan bagian pertama dari tulisan beliau yang mengupas keberatan orang-orang ateis mengenai keberadaan wujud Tuhan.

Sebagaimana angin zaman ini telah menyapu jejak Zat Ilahi dari hati banyak pemuda, seperti itu pulalah ratusan mahasiswa di universitas-universitas, para advokat, dan lain sebagainya mulai mengingkari wujud Allah Taala. Jumlah mereka kian bertambah hari demi hari. Terdapat ribuan orang yang menyembunyikan perkara ini karena takut akan masyarakat. Namun, pada kenyataannya, mereka sama sekali tidak beriman kepada Allah. Oleh karena itu, Saya berkeinginan menulis sebuah tulisan dengan tema ini dan menyebarluaskannya, dengan meminta taufik dari Allah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi jiwa-jiwa yang berbahagia.

Pertanyaan Pertama Yang Dikemukakan Orang-Orang Ateis adalah Bahwa Perlihatkanlah Allah kepada Kami sehingga Kami Dapat Beriman kepada-Nya

Saya telah mendengar pertanyaan ini berulang kali. Namun, Saya senantiasa takjub setiap kali mendengarnya. Sesungguhnya, manusia mengetahui benda-benda yang berbeda dengan indra-indra yang berbeda pula: sebagian darinya dengan melihat, yang lainnya dengan meraba, sebagian darinya dengan mencium, yang lainnya dengan mendengar, dan sebagian darinya dengan mencicipi. Dimungkinkan mengetahui warna dengan melihat, tetapi tidak dimungkinkan mengetahuinya dengan mencium atau mencicipi. Apakah bukan suatu ketololan bahwa seseorang berkata, “Aku tidak akan mempercayai keberadaan warna hingga Kalian memperdengarkan suaranya kepadaku?” Demikian juga, suara diketahui dengan jalan mendengar. Apakah tidak bodoh seseorang yang berkata, “Sesungguhnya, Aku tidak akan mempercayai bahwa fulan dapat berkata-kata hingga Kalian memperlihatkan suaranya kepadaku?” Demikian juga, bau harum diketahui dengan mencium. Pun, jika seseorang berkata, “Sesungguhnya, Aku tidak akan arif akan keberadaan bau harum, kecuali jika Kalian mencicipkannya kepadaku,” apakah orang ini dianggap sebagai seorang yang berakal? Kebalikannya, jika seseorang berkeinginan untuk mengetahui benda-benda yang dapat diketahui dengan mencicipi seperti keasaman, kemanisan, kepahitan, dan keasinan dengan mencium, dia tidak akan mampu melakukan hal itu selama-lamanya. Dengan demikian, bukan merupakan keharusan bagi Kita untuk hanya mempercayai apa yang Kita lihat dan saksikan di hadapan Kita dan Kita harus tidak mempercayai apa yang tidak dapat dilihat karena hal ini akan mewajibkan pengingkaran terhadap keharuman bunga, keasaman lemon, kemanisan madu, kepahitan labu, kekerasan besi, dan berbagai jenis suara karena benda-benda ini tidak dapat disaksikan, tetapi dapat diketahui dengan mencium, mencicipi, meraba, dan mendengar.

Oleh karena itu, betapa kekanak-kanakannya keberatan ini bahwa Kita tidak akan beriman kepada Allah hingga Kalian memperlihatkannya kepadaku! Apakah orang-orang yang mengajukan keberatan itu mempercayai keberadaan keharuman bunga atau kemanisan madu dengan melihat? Lantas, mengapa disyaratkan bahwa Kita harus tidak beriman, kecuali setelah melihat?

Sebagai tambahan terhadap hal itu, banyak dijumpai dalam tubuh manusia benda-benda yang Kita mempercayai keberadaannya dengan tanpa melihatnya. Bahkan, kita wajib mempercayainya. Apakah seseorang mempercayai keberadaan jantungnya, hatinya, otaknya, ususnya, paru-parunya, dan limpanya dengan melihat atau tanpa melihat? Jika benda-benda ini dikeluarkan agar dia dapat melihatnya, niscaya manusia akan mati seketika itu juga dan dia tidak akan memperoleh kesempatan untuk melihatnya.

Saya mengetengahkan contoh-contoh ini untuk menerangkan bahwa tidak mungkin dapat mengetahui semua benda dengan melihat saja. Akan tetapi, hal itu dapat diketahui dengan kelima indra. Sekarang, Saya akan menerangkan bahwa terdapat banyak benda yang tidak dimungkinkan untuk mengetahuinya bahkan dengan kelima indra. Sebaliknya, cara mengetahuinya bertentangan secara menyeluruh. Contohnya adalah sebagai berikut. Akal, ingatan, dan pikiran merupakan benda-benda yang tidak diingkari oleh seorangpun di dunia. Namun, adakah seseorang yang dapat melihat akal, menciumnya, atau merabanya? Dengan demikian, bagaimana Kita bisa mengetahui bahwa akal berwujud atau terdapat suatu wujud bagi ingatan? Seperti itu pulalah kekuatan. Sesungguhnya, manusia memiliki batas tertentu dari kekuatan. Dimungkinkan bagi seseorang untuk menjadi lemah atau kuat, tetapi dia tidak akan pernah benar-benar kosong dari kekuatan. Namun, adakah orang yang dapat melihat kekuatan, merabanya, atau mencicipinya? Bagaimana Kita bisa mengetahui bahwa terdapat suatu wujud baginya?

Sesungguhnya, seseorang yang paling luwes akan mampu memahami bahwa Kita tidak dapat mengetahui benda-benda ini dengan indra-indra. Sebaliknya, Kita dapat mengetahuinya dari jejak-jejaknya. Contohnya adalah sebagai berikut. Ketika seseorang menghadapi kesulitan-kesulitan, dia akan mempergunakan pikirannya untuk mencari jalan keluar dan menjauhkan dirinya dari kesulitan-kesulitan itu. Ketika Kita mencatat bahwa kesulitan-kesulitan pergi melalui cara ini, Kita menjadi yakin akan keberadaan suatu benda dalam diri manusia yang dapat dia manfaatkan dalam situasi-situasi seperti ini, dan kita menamainya akal. Kita tidak dapat menyingkapkan akal dengan salah satu kelima indra, sebaliknya kita dapat mencernanya dengan menyaksikan kodrat-kodratnya dan keajaiban-keajaibannya. Demikian juga, ketika Kita melihat manusia dapat memikul beban-beban yang berat, Kita menjadi tahu bahwa manusia memiliki suatu substansi yang dengannya dia dapat memikul hal-hal yang berat dan menguasai benda-benda yang lebih lemah darinya dan Kita menamainya ‘kekuatan’ atau ‘ketahanan’.

Seperti itulah benda-benda yang sangat halus dan benda-benda yang sangat halus tertutupi dari pandangan-pandangan. Kalian senantiasa hanya dapat mencerna keberadaannya dengan jejak-jejaknya, tidak dengan melihat, tidak dengan mencium, tidak dengan mencicipi, dan tidak pula dengan meraba. Oleh karena itu, apakah sahih bagi Kita untuk mempergunakan sarana-sarana ini agar Kita dapat mengetahui keberadaan Allah, padahal Dia merupakan wujud yang paling halus?! Apakah sahih bagi Kita untuk tidak beriman kepada-Nya, kecuali jika Kita telah melihat-Nya dengan mata telanjang? Apakah ada seseorang yang dapat melihat listrik? Lantas, apakah dimungkinkan untuk mengingkari berita-berita yang sampai dengan perantaraan listik, mengingkari pengerjaan manufaktur-manufaktur, atau mengingkari pencahayaan lampu-lampu?

Penemuan eter telah menimbulkan keributan dalam dunia fisika. Namun, apakah para ilmuwan mampu menemukan wasilah untuk melihatnya, mendengarnya, merabanya, atau mencicipinya? Namun, jika Kita tidak mengetahui wujudnya, bagaimana Kita bisa mengetahui solusi bagi kompleksitas kaifiat sampainya cahaya matahari ke bumi? Dengan demikian, betapa aniayanya untuk dikatakan bersamaan dengan kesaksian-kesaksian ini, “Perlihatkanlah Allah kepada Kami. Jika tidak, Kami tidak akan beriman kepada-Nya!” Sesungguhnya, Allah Taala dapat dilihat dan diamati, tetapi dengan mata lain yang mampu melihatnya. Oleh karena itu, jika seseorang beharap untuk melihat-Nya, Dia akan berada di hadapan Kita kodrat-kodrat-Nya dan kekuatan-kekuatan-Nya. Meskipun Dia tersembunyi, Dia sejatinya merupakan wujud yang paling tampak dari segala sesuatu lainnya.

Sesungguhnya, Allah Taala telah menerangkan tema ini di dalam Alquran Suci dengan sangat ringkas, tetapi dengan uslūb yang tidak ada bandingannya ketika Dia berfirman:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَۖ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيرُْ ﴿﴾

Allah Taala melalui ayat ini telah menarik perhatian manusia bahwa penglihatan mereka tidak kuasa untuk untuk melihat Zat Ilahi karena Dia sangat halus. Benda-benda yang halus tidak dimungkinkan untuk melihatnya seperti kekuatan, akal, ruh, listrik, dan eter tidak dimungkinkan bagi seorangpun untuk dapat melihat benda-benda ini selama-lamanya. Dengan demikian, bagaimana mungkin penglihatan manusia dapat mencapai Allah Yang Mahahalus?

Dengan demikian, bagaimana cara untuk melihat-Nya dan apa cara untuk mengetahuinya? Dia menjawab pertanyaan ini bahwa Dia وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ. Sesungguhnya, penglihatan manusia bersebab kelemahannya tidak mampu meraih esensi-Nya. Namun, bersamaan dengan itu, Dia menampakkan wujud-Nya kepada manusia dengan menampakkan kodrat-Nya dan kekuatan-Nya dan dengan memanifestasikan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Karena penglihatan manusia untuk melihat-Nya lemah, Dia sendiri yang menampakkan wujud-Nya dengan kekuatan-kekuatan-Nya dan kodrat-kodrat-Nya yang tidak terbatas melalui cara-cara yang berlainan: sekali waktu dengan tanda-tanda keagungan-Nya, sekali waktu melalui para nabi-Nya, sekali waktu melalui jejak-jejak rahmat-Nya, dan sekali waktu dengan pengabulan doa.

Jika iman kepada Allah terletak pada melihat wujud-Nya dan kearifan akan suatu benda tidak dihitung, kecuali setelah melihatnya, niscaya Kita diharuskan untuk mengingkari 80% benda-benda di dunia, bahkan semua benda menurut pendapat sebagian filsuf, karena mereka berkeyakinan bahwa tidak ada satupun benda yang dapat dilihat di dunia karena yang dapat dilihat hanyalah sifat-sifatnya.”

[Tasyḥīdz al-Adzhān, Maret 1913]

*tulisan diambil dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s