‘Posisi Menulis’ Saya

 

Beberapa penulis punya ritual atau kebiasaan tersendiri dalam proses menulis. Dari tulisan Kak Ika Natassa saya kemudian baru tahu bahwa ternyata beberapa penulis punya kebiasaan yang ‘tak biasa’ agar bisa lancar menulis. James Joyce menulis dengan posisi tidur tengkurep dan menggunakan pensil berwarna biru. Virginia Woolf menulis di atas meja yang dirancang khusus agar dia bisa melihat karyanya dari dekat dan jauh. Hemingway suka mengetik naskahnya sambil berdiri. Agatha Christie suka mengunyah apel di dalam bak mandi.

Kebiasaan-kebiasaan menulis yang bisa dibilang ‘ngga biasa’ ini, bisa dimengerti sih. Sebagai orang yang suka menulis, saya juga punya posisi dan kebiasaan tertentu supaya proses menulisnya bisa lancar. Terutama soal posisi.

Tadinya saya kira, saya hanya terlalu beralasan dalam hal posisi menulis ini. Saya kira saya hanya butuh pembenaran atas ketidakproduktifan saya dalam menulis. Karena dalam beberapa contoh kasus, ada saja yang bisa menghasilkan karya gemilang dalam penjara. Pramoedya Ananta Toer misalnya. Masa’ saya yang bebas merdeka ini, harus punya posisi tertentu supaya bisa menulis dengan lancar. Belum lagi, apalah karya yang saya miliki, ngga ada sama sekali.

Tapi ternyata, seperti yang diceritakan Kak Ika Natassa, setiap orang punya keunikan masing-masing. Ada yang butuh ritual dan kebiasaan tertentu agar proses menulisnya lancar, ada yang tidak. Dan biasanya, manusia bisa mengeluarkan kemampuan yang sangat luar biasa –yang bahkan tidak diketahui dirinya sebelumnya- dalam keadaan terdesak. Jadi, ketika tidak dalam keadaan terdesak, kebutuhan akan posisi, ritual, dan kebiasaan tertentu agar bisa menulis dengan lancar, adalah hal yang ‘normal’. Hehe.

Sejauh yang saya ingat, sepertinya proses menulis (menulis apa saja, dari tulisan untuk di blog pribadi, di Raja Pena, sampe skripsi dan tesis) terasa lebih lancar ketika posisi meja tulis saya itu diletakkan berdekatan dengan televisi dan jendela. Saya sendiri belum tahu pasti kenapa posisi ini membuat proses menulis jadi lebih lancar dan ide-ide mudah berdatangan.

Mungkin, televisi masih bisa memberi saya ide menulis. Atau ketika saya sendiri, suara televisi memberi sedikit keramaian yang saya butuhkan agar tak merasa kesepian.

Sementara jendela sebagai ventilasi udara, tidak hanya menyediakan udara dan cahaya, tetapi juga pemandangan di luar rumah. Jendela juga bisa saya jadikan sarana agar imajinasi saya bisa bebas berkeliaran mencari ide. Lebih tepatnya, jendela adalah sarana saya melamun.

Dan, dengan meletakkan meja di ruang yang sama dengan televisi, di mana di situlah saya sering sekali menghabiskan waktu, maka saya selalu diingatkan untuk menulis. Apapun itu. Bahkan untuk tulisan yang remeh sekalipun, yang penting menulis. Sekedar melatih dan memperbanyak jam terbang.

Alhasil ruang tengah, ruangan di mana biasanya televisi berada, jadi agak terasa ‘penuh’. Karena di salah satu sudut ruangan, ada meja dan kursi kerja milik suami dan di sudut yang bersebrangan ada meja milik saya. Kecuali kalau ada tamu menginap di rumah, atau ada kegiatan di rumah yang mengundang banyak orang, saya masukkan meja tulis saya ke kamar.

Tapi kalau tidak ada tamu jauh yang menginap di rumah, atau kegiatan di rumah yang membutuhkan kelapangan ruangan, maka meja saya akan berada di posisi yang saya sebut ‘posisi menulis’ saya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s