Jadi Pusat Perhatian

Mau berbagi cerita sedikit.

Kebetulan di rumah ada satu anak perempuan yang ikut tinggal. Namanya Sari. Sekolahnya dekat dari rumah, jalan kaki 5 menit. Sementara rumah orangtuanya lumayan jauh, sekitar 20 menit dari rumah naik kendaraan, harus menyeberang sungai, dan belum ada listrik.

Sari berusia 11 tahun, tapi saat ini dia sekolah di Madrasah Tsanawiyah tingkat 7. Sebagai pasangan yang belum punya anak, saya dan suami belajar punya anak juga sejak ada Sari. Walaupun Sari sendiri termasuk anak yang mandiri, mudah dikasih tahu, terbilang anak yang tidak merepotkan.

Pembagian raport terakhir kemarin, orangtuanya tidak bisa datang. Akhirnya saya diminta mewakili orangtuanya untuk mengambil raport. Karena suami sedang pergi menggunakan sepeda motor, otomatis saya harus jalan kaki ke sekolah Sari.

Ini yang lucu. Sejak saya memasuki gerbang sekolah sampai saya meninggalkan gerbang sekolah, nyaris semua mata tertuju pada saya. Tentu saja itu karena saya bercadar. Sebagai orang yang ngga suka jadi pusat perhatian, saya sebenarnya risih banget dilihatin ratusan pasang mata begitu. Untungnya saya juga orang yang bisa cuek setengah mati. Jadi tatapan ratusan pasang mata itu ya saya abaikan saja. Saya tak mau terlihat salah tingkah. Dan ini juga salah satu keuntungan cadar, mereka ngga tahu bagaimana mimik muka saya sebenarnya merespon tatapan mereka. Hehe.

Begitu saya mendekati kelas Sari, teman-temannya semua melihat saya. Saya lihatin balik, mereka langsung memalingkan mata. Ngga mau ketahuan memperhatikan saya padahal saya sudah tahu. Hehe.

Selesai ambil raport, saya datangi lagi kerumunan anak-anak kelas Sari. Saya cari Sari, saya mau ajak pulang sama-sama. Sepanjang perjalanan pulang, saya tanya Sari, “Teman-temanmu bilang apa?”

“Itu siapa yang bercadar? Mamaknya siapa? Kayaknya aku pernah lihat deh. Kayaknya dia orangtuanya anak kelas VII A deh,” jawab Sari.

“Terus kamu bilang ngga, “Itu waliku.”?” Tanyaku lagi.

“Ngga. Malas aku jawab. Nanti mereka tanya-tanya lagi,” jawabnya polos.

Aku senyum-senyum saja mendengar jawabannya. Untuk anak sekecil dia, wajar dia malas jawab seputar cadarku. Dia tak paham apa-apa.

“Emangnya sebelumnya ngga pernah ada perempuan bercadar ke sekolah?” tanyaku lagi.

“Ngga tahu juga sih. Mereka takut kalau ibu itu penjual narkoba,” jawab Sari lagi.

Astaghfirullah! Rasanya mau meledak tawa saya. Hahaha. Perempuan-perempuan bercadar lain disangka teroris, saya malah disangka penjual narkoba. Tapi memang isu narkoba ini lagi santer banget di Melak. Dan polisi memang sedang gencar-gencarnya menyelidiki dan mengintai bandar narkoba yang kabarnya sudah masuk ke beberapa sekolah di Melak ini.

Tapi ya tetap aja sih, ngga ada yang mendingan ya. Teroris atau penjual narkoba, sama-sama tuduhan yang ngga enak. Cuma lucu aja, sangkaan penjual narkoba untuk perempuan bercadar ini baru pertama kalinya saya dengar.

Polos-polos sekali anak-anak ini.😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s