Aku Mencintaimu

Kemarin malam, mendadak mendapat sebuah kutipan bagus dari BBM.

Bayangkan ketika sujud, Allah mengelus kepalamu. Lalu, Dia berbisik lembut di kedua telingamu, “Aku Mencintaimu, hamba-Ku.”

Kutipan ini sendiri setelah googling sedikit, ternyata diambil dari sebuah buku berjudul Jangan Pernah Menyerah karya Aldilla D. Wijaya yang diterbitkan Oktober 2015. At least for those who want to rewrite or repost it on internet, don’t forget to write the source as well.

Kutipan ini sebenarnya merujuk pada salah satu cara yang disarankan dalam buku tersebut, agar pembacanya bisa menikmati setiap gerakan-gerakan shalat. Sehingga shalat sebagai ibadah, tidak hanya dijalankan atas dasar kewajiban, tetapi juga dilaksanakan dengan penuh kenikmatan.

Seperti itulah dulu shalat bagi saya. Shalat hanya sekedar kewajiban. Tak melaksanakannya, saya merasa tak menjalankan kewajiban saya. Dan saya takut, kalau saya tak melaksanakannya, akan ada suatu musibah yang menimpa saya.

Shalat tak dirasakan penuh kenikmatan. Bahkan, saya tak tahu bahwa shalat bisa sedemikian nikmat. Menjalankan ibadah dengan hati, tak pernah saya kenal.

Kemudian, suatu hari, 9 atau 10 tahun yang lalu, ada sesuatu yang meresahkan hati. Saya merasa tak diperhatikan-Nya, saya tak merasa disayang-Nya, saya merasa diabaikan oleh-Nya. Saya sendiri tidak paham kenapa saya begitu galau karena satu persoalan sepele.

Mungkin karena saya tinggal sendiri, atau mungkin saat itu tak ada yang bisa memahami isi hati, atau bahkan mungkin saya terlalu malu untuk mencurahkan perasaan saya pada manusia manapun, akhirnya saya memutuskan untuk ‘sedikit menggugat’ Allah.

Saya lupa tepatnya ketika Shalat Maghrib atau Shalat Isya, saya menangis sejadi-jadinya sepanjang shalat. Selesai shalat pun, air mata saya terus membanjiri wajah dan melebar ke mukena saya. Setelah shalat, saya bahkan tak sanggup mempertahankan posisi duduk tahiyat akhir saya lama-lama. Saya kembali merebahkan tubuh saya di atas sajadah, dan membanjirinya dengan air mata dan ungkapan hati yang selama ini tertahan.

Dengan kurang ajarnya (saya akui), saya utarakan ‘protes’ saya pada Allah. “Kenapa Engkau mengabaikanku, Ya Allah?? Kenapa??” Pertanyaan ini berulang-ulang saya utarakan dalam tangis dan deraian air mata. Saya bahkan tak peduli dengan apa yang selama ini saya takutkan –kalau saya ‘menggugat-Nya’, Dia akan menurunkan azab pada saya. Saya terlalu dirajai kesedihan yang teramat dalam.

Dalam posisi tubuh yang masih rebah di atas sajadah, setengah meringkuk, dan dada masih terasa sesak, tiba-tiba saya merasakan ada gelombang ketenangan dalam hati. Setengah berhalusinasi, saya merasa seperti ada yang mengelus kepala, merengkuh saya dalam dekapan, dan berbisik “Siapa bilang Aku tak sayang padamu? Siapa bilang Aku mengabaikanmu? Aku menyayangimu. Aku menyayangimu.”

Rasanya memang tak bisa dipercaya, tapi seperti ada sesosok lelaki, seperti layaknya seorang ayah yang mencurahkan kasih sayangnya pada anaknya, yang berusaha menenangkan putrinya dengan usapan tangannya pada kepala dan dekapan hangatnya. Itulah yang saya rasakan malam itu.

Dan sejak malam itu, saya paham apa itu kasih sayang Allah. Saya merasakan kasih sayang itu. Dan sejak malam itu, saya menjalankan ibadah dengan hati. Insya Allah.

Dan bertahun-tahun sejak malam itu, saya paham mengapa Dia memutuskan sesuatu yang saya tangisi malam itu. Mata hati saya dibuka untuk melihat, betapa Dia mencintai saya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s