Amannya Bercadar

9506709124_758a1ae061_z

(Foto: http://beforeitsnews.com/alternative/2013/09/hijab-niqabs-in-times-sq-2013-2755778.html)

Salah satu tante saya yang berhijab dan hobi traveling sendirian pernah bercerita pada saya, salah satu triknya agar aman ketika bepergian menaiki kendaraan umum adalah dengan menutup setengah wajahnya dengan kain kerudungnya layaknya cadar dan memakai kacamata hitam. Menurut pengalamannya, penampilan seperti itu membuat laki-laki –apalagi yang berniat jahat—jadi malas untuk mendekati.

Dalam satu kesempatan, kebetulan saya dan tiga tante saya traveling bersama. Tante yang pertama menggunakan cadar seperti saya (bukan karena beliau memang bercadar, tapi beliau merasa nyaman karena cadar mencegah hidungnya alergi terkena AC), yang kedua memakai kacamata hitam dan berpenampilan anggun sekali –tanpa cadar, dan tante yang terakhir adalah yang saya ceritakan di awal, ‘mencadarkan’ wajahnya dan memakai kacamata hitam. Maka total, ada tiga yang bercadar dalam grup ini: saya, tante yang pertama, dan tante yang ketiga.

Kami menaiki bis yang awalnya agak kosong. Maka saya dan ketiga tante saya duduk di bangku yang berbeda-beda namun masih berdekatan, agar bisa duduk lebih leluasa.

Tak lama naik seorang pemuda. Di antara sekian bangku kosong, dia memilih duduk di bangku yang sama dengan tante saya yang kedua, yang penampilannya anggun dengan kacamata hitamnya, tanpa cadar.

Tante yang ketiga langsung menoleh pada saya dan seolah berkata, “Apa Tante bilang?”

***

Hari ini, saya mengurus perekaman e-KTP di Kantor Kecamatan bersama suami. Ketika sedang duduk menunggu dipanggil, datang seorang pria yang juga ingin mengurus KTP. Kebetulan bangku di sebelah saya kosong. Tapi melihat saya (bercadar), dia seperti ragu untuk duduk di samping saya.

Saya sempat melihat dari sudut mata saya, dia berdiri agak lama, terlihat bingung antara mau duduk atau tidak. Dia pun akhirnya memutuskan untuk berdiri dan melihat-lihat papan pengumuman. Lalu saya minta suami bertukar posisi. Setelah suami saya menduduki bangku yang tadinya saya duduki, pria tadi tanpa ragu langsung duduk di bangku kosong tadi.

***

Dua pengalaman ini membuat saya yakin bahwa teori yang diceritakan tante saya itu tampaknya benar. Cadar membuat kami aman. Ada rasa segan (atau mungkin malas mendekati) yang terbangun dalam diri laki-laki (atau mereka yang berniat buruk) ketika melihat perempuan bercadar.

Paling tidak, saya pernah dengar dari seorang kawan yang mengatakan bahwa suaminya jadi segan sekali melihat perempuan bercadar. Ketika secara tidak sengaja melihat perempuan bercadar yang melepas cadarnya karena suatu hal, dia jadi malu dan akhirnya menundukkan pandangannya.

Ini yang membuat saya merasa tambah aman dalam menggunakan cadar. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa Indonesia masih tergolong aman untuk perempuan, tidak perlu cadar segala. Tapi faktanya toh tidak selalu demikian.

Awalnya saya bercadar karena saya risih jika laki-laki bisa bebas melihat wajah saya sepenuhnya, ketika saya harus berinteraksi dengan mereka. Kini, dengan kenyataan semacam ini, membuat saya tambah yakin dan mantap bahwa keputusan saya untuk memakai cadar adalah sangat tepat.

Pemakaian cadar, yang awalnya dilaksanakan karena ingin kenyamanan dalam berinteraksi dan beraktivitas, kini fungsinya bertambah. Tak hanya memberikan kenyamanan, tapi insya Allah juga keamanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s