Kenangan Popcorn Karamel

Mendadak saya jadi salah satu penggemar Ika Natassa ketika saya baca karya terakhirnya yang dulu diposting di Twitter dua kali seminggu. Di Architecture of Love salah satu karakter utamanya, River, suka banget makan popcorn karamel yang dijual di bioskop 21. Selama ini saya pikir saya aja yang merasa bahwa, somehow, popcorn karamelnya bioskop 21 itu enak banget dan ngga bisa dibeli di minimarket atau bahkan supermarket biasa. Belinya ya hanya di 21 aja. Dan saya asumsikan Ika Natassa setuju, terlihat dari penggambaran karakter River soal ini.

caramel popcorn

(Foto: http://www.opensnap.com/id/jakarta/r-xxi-cafe-grogol-r42828/review/144707?page=1)

Soal popcorn karamel bioskop 21 ini, saya punya kenangan tersendiri. Khususnya dengan Mama. Dulu waktu saya masih kuliah dan tinggal di Bandung dan Mama sering mengunjungi saya seorang diri, kami seringkali masuk ke bioskop 21 hanya untuk beli popcorn karamelnya. Mama suka banget dan sering tergoda sama popcorn karamel ini.

Setelah beli, kami kemudian duduk di lobinya, menikmati popcorn dan memperhatikan orang-orang yang berseliweran. Kami ngga beli tiket untuk nonton filmnya karena Mama juga bukan penggemar film. Mama juga ngga suka berlama-lama di mal karena mudah lelah. Jadi kami pilih aktivitas yang tidak membutuhkan tenaga dan pikiran banyak, nongkrong.

Kenangan yang entah sudah berapa tahun hanya bisa nempel di benak dan sudah sangat sulit diulang. Rasanya sangat menyenangkan mengingat masa itu. Menghabiskan waktu hanya berdua dengan Mama, duduk-duduk cantik di lobi bioskop 21 mengademkan diri, menikmati popcorn karamel yang super enak itu, kemudian pulang. Simple dan mungkin terkesan ‘gitu doang?’ tapi sometimes that’s all we need. As ‘we’ here refers to Mama dan saya.😀

Popcorn karamel sendiri sekarang udah ada yang dalam bentuk kemasan yang dijual bebas. Saya pernah beli dan rasanya, surprisingly and amazingly, nyaris sama enaknya dengan yang dijual 21. Paling ngga sekarang saya bisa beli popcorn karamel yang rasanya-nyaris-sama kapanpun saya mau (kecuali saat ini karena di Melak belum pernah nemu). Tapi tetep, kenangannya ngga bisa diulang lagi kapanpun saya mau. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s