Membela dan Tak Membela

Sekitar dua malam yang lalu saya menerima sebuah komentar di Instagram. Kritikan lebih tepatnya. Komentar itu diposting di salah satu foto yang saya repost dari akun lain mengenai niqab berikut caption-nya.

Ada beberapa poin yang jadi bahan kritikannya. Salah satunya adalah bagaimana sebagian besar negara-negara Islam memaksa orang lain termasuk non-Muslim untuk memakai kerudung jika memasuki negara-negara tersebut. Dia juga mengkritik bagaimana di negara-negara tersebut siapapun dilarang menjadi gay dan melakukan hubungan kelamin di luar pernikahan.

Komentar itu masuk ketika saya sudah terlalu ngantuk untuk bisa membalasnya saat itu. Bahkan saya sempat berpikir, sebaiknya tidak usah dijawab karena saya menduga bahwa akun tersebut hanya milik seorang anti-Islam yang selalu mencari-cari kesalahan dan kelemahan Islam dan pengikutnya.

Tetapi keesokan paginya, saya baca lagi komentar itu dengan seksama dan saya tergerak untuk membalas komentar itu. Saya menanamkan pikiran positif bahwa dia hanya ingin menyampaikan unek-uneknya berdasarkan apa yang dia lihat dan (mungkin) dia alami. Ditambah lagi saya merasa bahwa saya bisa menjawab segala unek-uneknya itu.

Maka saya jawablah semua poin yang dia kritik satu-satu. Dan dia menjawab lagi dan terjadilah diskusi yang agak panjang.

Salah satu poin menarik yang jadi perhatian lebih buat saya adalah ketika dia mengkritik perlakuan negara-negara Islam terhadap warga non-Muslim. Dia menuntut perlakuan yang seharusnya sama. Karena di negara-negara Barat, warga Muslim cukup dihargai dan diperbolehkan melakukan apa yang jadi tradisi dan gaya hidup mereka sementara di sebagian besar negara-negara Islam, warga non-Muslim tidak diberi kebebasan yang sama.

Dalam hal ini, yang saya lakukan hanyalah saya meminta maaf. Saya meminta maaf atas perlakuan tak ramah dari sebagian besar negara-negara Islam itu dan mengatakan bahwa Islam tak pernah mengajarkan hal itu. Dan memang itulah kenyataannya.

Soal cadar, homoseksualitas, dan perzinahan, saya bisa membela diri dan menjelaskan panjang lebar. Termasuk sangkaannya soal Hadhrat Rasulullah saw. menikahi Hadhrat Aisyah ra. ketika masih anak-anak. Saya bisa mengoreksi pandangan salah yang ada selama ini mengenai hal-hal tersebut.

Tapi soal bagaimana perlakuan sebagian besar negara-negara Islam itu, saya tak bisa menjelaskan apalagi membela diri. Dan saya pun tak mau membela mereka karena memang apa yang mereka lakukan sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh Islam.

Saya sendiri kecewa dengan kebanyakan negara-negara Islam dalam menerapkan peraturan dan memperlakukan orang lain. Jangankan memperlakukan warganya yang non-Muslim, warga Muslim saja diperlakukan tak adil. Kaum perempuan contoh nyata.

Islam senantiasa mengajarkan kita mencintai dan menghargai siapapun, apapun agama, jenis kelamin, ras, dan sukunya. Dan faktanya, sebagian besar negara-negara Islam mengabaikan hal-hal tersebut.

Karenanya membela negara-negara Islam tersebut menurut saya adalah pembelaan yang membabi-buta. Harus berani diakui bahwa yang mereka lakukan tak pernah diajarkan Islam. Membela mereka adalah tindakan tak patut. Karenanya, tidak dan tidak akan pernah saya lakukan.

Kembali ke diskusi di Instagram, ternyata dugaan saya salah. Akun tersebut hanya meminta penjelasan kenapa, apa, dan bagaimana. Setelah saya jelaskan, dia bisa menerima dengan baik walaupun beberapa penjelasan saya tak bisa diterima atau disetujuinya. Tapi paling tidak kami sama-sama sepakat untuk satu hal, bersikap terbuka atas perbedaan.

Satu hal lagi. Entah bagaimana, ketika saya menjawab keberatan-keberatan dan pertanyaan-pertanyaan akun tersebut soal ajaran-ajaran Islam yang dia lihat, dan dia bisa menerima, berterimakasih atas penjelasan yang saya berikan, ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri.

Walau sedikit, saya merasa bahagia paling tidak ada satu orang yang pendapatnya berubah mengenai ajaran Islam yang sebenarnya. Ada rasa kedamaian yang sebenar-benarnya menghangat dalam hati.

Perasaan ini seperti hadiah, pantas untuk diperjuangkan. Karena kita memperjuangkan apa yang kita yakini agar senantiasa terjaga citranya seperti yang seharusnya, seperti yang kita yakini kebenarannya dan sangat kita cintai.

One thought on “Membela dan Tak Membela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s