Terhadap Orang Lain

Sebulan yang lalu saya membeli sebuah buku yang sebenarnya tidak direncanakan. Blink karya Malcolm Gladwell. Saya tahu untuk orang-orang seumuran saya, saya terbilang telat (atau sangat telat bagi sebagian orang) membaca buku ini. Tapi ya ngga papa lah. 😁

Saya juga tidak menduga bahwa saya akan suka dengan cara Malcolm bertutur dan cara dia menyusun alur buku ini. Penelitian-penelitian mencengangkan satu per satu membuat saya terpaku, tertawa, dan meluncurkan komentar-komentar seperti “wow”, “oh?” dan ekspresi lain yang serupa. Buku ini benar-benar membuka mata saya sampai saya berniat untuk membacanya berkali-kali agar setiap pelajaran yang terkandung di dalamnya bisa tertanam dengan kuat di benak saya.

Salah satu penelitian yang pertama tertanam di benak saya adalah soal hubungan dokter dan pasien. Pasien yang terkena kasus mal praktik, cenderung tidak akan menuntut dokter yang mereka sukai (hlm 47). Walaupun seorang dokter memiliki ilmu yang tinggi dan bahkan dia tidak bersalah dalam kasus mal praktik (karena kasus mal praktik melibatkan banyak pihak, tidak hanya dokter saja), tetapi apabila si dokter tidak memperlakukan pasiennya dengan penuh perhatian, maka sangat besar kemungkinannya dia yang akan dituntut.

Yang lebih mencengangkan lagi adalah, apabila dokter yang disukai pasien melakukan kesalahan sehingga terjadi kasus mal praktik, pasien cenderung tidak akan menuntut dokter tersebut. Karena pasien menyukainya. Sesederhana itu.

Dalam kasus dokter dan pasien ini, mendengar bahwa kondisinya tidak baik tentu sudah sangat menyedihkan bagi si pasien. Akan semakin buruk perasaannya bila dokternya memperlakukannya dengan cara yang tidak ramah, tidak sabar, tidak bersahabat, dan juga tidak informatif.

Setiap orang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan kebaikan hati. Ketinggian ilmu, keluasan pengetahuan dan wawasan menjadi tidak ada gunanya ketika kita tidak menunjukkan kepekaan, kebaikan, simpati, dan empati terhadap keadaan orang lain. Sapaan hangat, atau minimal hanya sebuah senyum tulus, kadang adalah hal yang bisa jadi paling dibutuhkan seseorang hari itu.

Penelitian ini membuat saya menjadi semakin paham bahwa bahkan dalam berdakwah pun, adu dalil justru ditempatkan di posisi terakhir. Yang diutamakan justru bagaimana kita bisa mendekatkan diri kita dan menyentuh hati orang lain.

Karena begitu hati mereka tersentuh dengan sikap kita, bahkan bila kita melakukan kesalahan pun, mereka akan memaklumi dan tidak akan mempermasalahkan. Karena apa? Karena mereka menyukai kita. Sesederhana itu.

Ada banyak penelitian yang menarik disajikan buku ini. Menarik tidak saja dari hasil yang keluar dalam setiap penelitian, tetapi juga bagaimana penelitian-penelitian ini menguatkan fenomena-fenomena lain yang membuat saya termenung.

Sepertinya saya akan membeli buku Malcolm Gladwell lainnya. 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s