Membela Buta

Sebenarnya agak malas juga membahas aksi 411 kemarin. Tapi entah kenapa merasa harus meluruskan beberapa hal.

Ada yang bilang bahwa seharusnya Ahok tidak membahas kitab agama lain. Bahkan ada yang bilang orang Kristen pun akan marah kalau kitabnya diobrak-abrik orang lain.

Ini kesalahan sih. Orang-orang yang mengatakan hal ini memposisikan orang-orang Kristen seperti dirinya. Tapi faktanya nggak seperti itu.

Agama Kristen (dan Katholik), sepengelihatan saya yang jelas sangat awam saja, sudah lama diobrak-abrik kitab dan ajarannya. Oleh banyak orang.

Contoh paling mudah aja deh. Kalau pada suka baca novelnya Dan Brown yang Da Vinci’s Code, itu kurang mengobrak-abrik apa coba terhadap ajaran Kristen (dan Katholik). Tapi apa kemudian umat Kristen (dan Katholik) sedunia marah sampai bikin kerusuhan? Nggak ada. Sama sekali.

Jadi tolong, kalau mau membandingkan, jangan pakai perbandingan diri sendiri yang faktanya amat sangat bertentangan. Karena akan kelihatan kurang bacanya.

Kedua, ada yang mengatakan bahwa aksi 411 kemarin adalah momentum untuk menyaring lingkaran pertemanan. Bahwa yang menentang aksi ini pun harus dilemparkan dari lingkaran pertemanan.

Ya boleh-boleh aja sih. Cuma di sini bisa dilihat kedangkalan tolak ukur yang dipakai dalam menyusun lingkaran pertemanan. Ini malah menunjukkan ketidak-siapan dan ketidak-inginan untuk membuka hati dan pikiran dalam menerima perbedaan.

Sebenarnya sih nggak papa juga. Yang rugi toh yang memilih menutup diri. Cuma saya ingin mengingatkan aja, sayang lho benak sama hatinya kalau nggak dibiasakan dengan perbedaan. Sangat memungkinkan di masa depan akan ada kebenaran yang ditolak karena kekakuan benak dan hati dalam menerima perbedaan.

Sekedar mengingatkan bahwa semua nabi datang dengan perbedaan. Apa yang mereka ajarkan sangat jauh berbeda dengan apa yang diyakini umat-umatnya sebelumnya. Makanya nabi senantiasa ditentang dan ditolak. Karena apa? Karena umat yang mereka peringatkan sudah beku hatinya untuk menerima kebenaran yang ternyata berbeda dengan keyakinannya selama ini.

Jadi, jangan bangga dengan diri sendiri dan merasa ‘terlalu mulia’ untuk mau menerima lingkaran pertemanan yang berbeda selama pertemanan itu bukan menjerumuskan pada keburukan.

Yang ketiga, bahwa kita butuh membela Al-Qur’an itu saya setuju. Yang saya sangat tidak setuju adalah cara yang digunakan. Anda ingin membela Al-Qur’an artinya ingin menunjukkan kebenaran dan kemuliaan Al-Qur’an. Ada banyak caranya. Misalnya dengan tulisan yang berlandaskan keilmuan.

Aksi 411 kemarin harus diakui berdasarkan alasan yang salah. Ahok bukan ‘menyerang’ Al-Qur’an, apalagi Islam. Yang dia ‘serang’ adalah orang-orang yang menggunakan Al-Qur’an untuk niat politis. Perhatikan bedanya.

Siapa bilang Al-Qur’an nggak bisa digunakan untuk sebuah kebohongan. Yang dilakulan ISIS itu diyakini oleh mereka berdasarkan ajaran Al-Qur’an. Apakah yang dilakukan ISIS itu benar?

Benar bahwa Al-Qur’an itu mulia, semua isinya adalah kebenaran. Tapi jangan menafikkan bahwa kita manusia, adalah makhluk lemah. Kita manusia, walau dikasih akal, masih nggak bisa lepas dari kelemahan dalam memahami isi Al-Qur’an yang kedalaman ilmunya melebihi semua samudera di jagat raya ini.

Jadi terlalu naif kalau bilang “Isi Al-Qur’an adalah kebenaran sehingga tak mungkin bisa dipakai untuk sebuah kebohongan.” Yang melakukan kebohongan itu manusianya, bukan Al-Qur’an. Atas dasar apa? Atas dasar kelemahan manusia tersebut untuk memahami Al-Qur’an lebih dalam, dan kelemahan imannya sehingga bersedia melakukan kebohongan. Kebohongan dan Al-Qur’an jelas dua hal yang berbeda. Pahami dulu itu.

Buat saya, aksi 411 kemarin bukan aksi membela Al-Qur’an karena dasar permasalahannya sudah salah dipahami oleh mereka yang demo.

Kalau mau membela Al-Qur’an dan Islam, tunjukkan dengan akhlak. Tunjukkan bahwa akhlak kita sudah mencerminkan apa yang Islam ajarkan melalui Al-Qur’an. Itu adalah pembelaan terhadap Al-Qur’an yang paling mulia. Bukankah action speaks louder than words?

Membela boleh, tapi jangan buta. Allah Ta’ala kan memerintahkan kita untuk berpikir. Aplikasikan metode penelitian yang sudah kita pelajari bertahun-tahun di sekolah sampai di universitas dalam kehidupan juga. Verifikasi sebanyak-banyaknya sebelum mengambil kesimpulan. Kan gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s