Spotlight

​Beberapa hari ini, saya lagi suka banget nonton film Spotlight. Untuk yang belum familiar, Spotlight adalah sebuah film yang bercerita mengenai sebuah tim jurnalis yang khusus menginvestigasi sebuah kasus yang nantinya akan mereka publikasikan secara berkala dalam sebuah koran bernama Boston Globe. 

(Gambar diambil dari https://play.google.com)

Dalam film ini, kasus yang menjadi topik investigasi mereka adalah kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh kurang lebih 90 pendeta (di akhir film dijelaskan bahwa jumlahnya tidak hanya 90 orang). 

Sebuah kasus yang tidak hanya mengguncang nalar tetapi juga iman, khususnya di Boston yang warganya cukup relijius dan pembaca Boston Globe yang sekitar 53% nya adalah penganut Katolik yang taat.

Soal kasus pelecehan seksual ini sih saya tentu tidak punya kapabilitas untuk membahasnya. Walaupun ya kasus semacam ini sudah lama saya dengar, dan film ini membuat saya sadar bahwa ternyata permasalahan yang dihadapi dunia dalam hal ini tidak sesederhana yang disangka. Saya sih hanya ingin membahas mengenai apa yang saya suka dalam film ini.

Secara pribadi, saya suka dengan dialog-dialog dalam film ini, konfliknya yang nggak terlalu menguras emosi, dan juga interaksi berbagai karakter di dalamnya.

Selain saya jadi paham bagaimana kinerja para wartawan, saya juga paham bagaimana perjuangan mereka dalam menaklukan hati narasumber agar mau bersuara dalam kasus yang tengah mereka investigasi.

Membuka wawasan banget sih.

Saya juga suka banget dengan akting para pemain di film ini yang natural. Interaksi setiap karakternya sangat menggambarkan perilaku yang memang secara alami sering dilakukan manusia pada umumnya.

Menonton film ini seperti disuguhkan sebuah akting yang seolah (atau mungkin saja memang begitu adanya) diimprovisasi oleh para pemainnya tanpa batasan dari sutradara. Karena kesan alaminya dapet banget.

Menonton film ini membuat profesi wartawan, khususnya wartawan laporan khusus atau investigatif, tampak menantang dan menarik bagi saya. Rasanya film ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun untuk menjadi wartawan yang punya dedikasi.

Saya juga kagum dengan kegigihan para jurnalis ini (yang sepertinya memang sangat harus dimiliki, terutama mereka yang tengah menginvestigasi sebuah kasus sensitif) dalam menemui para narasumber, bagaimanapun mereka ditolak dan dicaci maki. Tapi nggak ada keterkejutan atau marah, sedih, kecewa ketika berhadapan dengan penolakan-penolakan dari mereka yang nggak mau bersuara. Sesuatu yang rasanya sulit untuk saya bayangkan akan bisa saya lakukan. 😁

Dan menonton film ini mengingatkan saya bahwa kunci sebuah tulisan yang kuat adalah banyaknya data dan referensi yang kita miliki. Menulis, pada akhirnya, hanya sebuah proses terakhir dalam menyuguhkan sebuah fakta. Tetapi untuk menjadikannya sebuah tulisan yang memiliki ketajaman bak belati adalah ketersediaan data yang banyak dan kuat yang dalam proses pengumpulannya itu sendiri, memakan waktu paling banyak daripada proses menuliskannya.

Karena saya nggak begitu mengikuti perkembangan film dunia, saya juga baru tahu bahwa film Spotlight ini berhasil meraih dua penghargaan Oscar. Kategori yang bergengsi pula: Best Motion Picture dan Best Screenplay. Sebuah kepantasan saya kira mengingat kualitas film ini yang tidak saja menambah wawasan dari kasus yang menjadi tema utama film ini, tetapi juga menambah wawasan salah satunya dalam hal akting para pemainnya.

Sepertinya, film ini membuat siapa saja yang menontonnya bisa belajar banyak hal dan dari berbagai sudut. Salah satu film keren yang sudah pasti masuk daftar film favorit saya. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s